Seorang ahli kesehatan berpendapat bahwa masih banyak ibu yang belum menyadari bahwa penggunaan popok tradisional sebenarnya kurang baik bagi bayi karena daya serapnya yang rendah sehingga menimbulkan ruam atau merah pada kulit bayi.
"Ibu rumah tangga masih menganggap penggunaan popok tradisional atau popok kain lebih baik dibandingkan popok modern. Namun perlu diingat popok kain sebenarnya memiliki daya serap yang rendah," kata dokter Tina Wardhani Wisesa dari Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Jakarta beberapa waktu lalu.
Dokter Tina Wardhani mengemukakan hal itu dalam diskusi yang membahas perbandingan pemanfaatan atau penggunaan popok bayi tradisional dengan popok modern pada pertemuan yang diselenggarakan PT Kimberly-Clark Indonesia yang memproduksi popok Huggies Ultra.
Tina menjelaskan rendahnya daya serap popok tradisional mengakibatkan kulit bayi menjadi lembab dan lebih lanjut menyebabkan ruam atau merah-merah pada kulit. "Popok yang ideal adalah popok yang mempunyai daya serap besar, dapat menyerap cairan tanpa mengganggu aliran udara dan terdapat indikator daya tampung," katanya.
Hasil penelitian RSCM Jakarta menunjukkan bahwa satu dari tiga bayi atau balita pernah mengalami ruam popok. Ruam popok juga menduduki posisi teratas dari jumlah penyakit kulit pada bayi yang ditangani RSCM sejak tahun 2005-2009. "Ruam popok disebabkan oleh penggunaan popok yang salah, sehingga terjadi iritasi yang dipicu oleh urin dan feses bayi," kata dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung itu.
Ruam biasanya berwarna kemerahan disertai dengan lecet ringan serta gatal. Gejala ruam terlihat dari kemerahan pada daerah bokong atau pantat yang mencembung, di kulit yang menempel dengan popok serta pada daerah lipatan kulit.
Sementara itu, Manajer Pemasaran PT Kimberly-Clark Indonesia Benny Setiawan mengemukakan penggunaan popok Huggies Ultra telah terbukti dapat menghambat pertumbuhan jamur Candida Albicans dan mencegah iritasi secara signifikan hingga 50%. Benny Setiawan menjelaskan studi klinis tersebut dilakukan oleh Huggies terhadap 500 bayi laki-laki dan perempuan yang berusia antara tiga hingga 15 bulan dengan melibatkan para ahli medis dari beberapa perguruan tinggi di AS. (vemale.com)
|